JAMBI, 18 September 2026 – Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) dan perayaan HUT KONI Provinsi Jambi tahun ini membuka tabir krisis tata kelola olahraga di Provinsi Jambi. Di balik acara seremonial, muncul indikasi kuat terjadinya kemerosotan soliditas internal yang berada di titik nadir, ditandai dengan aksi “boikot halus” dari para pengurus cabang olahraga (cabor) dan buntunya masa depan pembinaan atlet akibat batalnya Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Kehadiran minim dari elemen kunci—para ketua cabor dan pengurus teras—dalam acara penting KONI bukanlah sekadar kebetulan. Dinamika ini merupakan bentuk Silent Rebellion (pemberontakan bisu) yang menjadi sinyal bahaya bagi kepemimpinan Ketua Umum KONI Jambi. Absennya para nakhoda cabor mengindikasikan macetnya konsolidasi organisasi dan memunculkan faksi-faksi yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis.
Di tengah internal yang terbelah, publik olahraga Jambi kembali dihantam kenyataan pahit dengan batalnya Porprov. Penundaan ajang ini membunuh proses regenerasi atlet di daerah. Porprov sejatinya adalah panggung pembuktian bagi kabupaten dan kota untuk meruntuhkan hegemoni daerah besar dan mencetak bintang baru. Tanpa agenda krusial ini, peta kekuatan olahraga Jambi menuju PON 2028 menjadi buta total.
Para pelatih yang telah menyusun program periodisasi latihan dan para atlet yang memeras keringat di pemusatan latihan mandiri kini kehilangan medan uji coba (test event). Keringat mereka kadaluarsa tanpa pernah merasakan matras kompetisi. Alih-alih mempersiapkan kekuatan untuk PON 2028, KONI Jambi dinilai justru melucuti senjatanya sendiri.
Melihat karut-marut ini, Pengamat Olahraga Provinsi Jambi, Habib Ahmad Syukri Baraqbah, S.HI., melontarkan kritik pedas. Ia menegaskan kondisi KONI Jambi saat ini sangat menyedihkan dan tidak bisa lagi ditutupi dengan alasan-alasan normatif.
“Ketidakhadiran mayoritas pengurus cabor dalam agenda resmi KONI itu bukan sekadar riak kecil, itu mosi tidak percaya yang tak terucapkan!” tegas Habib Syukri.
“Jangan jadikan seremonial sebagai alat kamuflase. Kalau internalnya saja sudah tidak saling menghargai, komunikasi mampet, dan cabor merasa ditinggalkan, bagaimana kita bicara soal prestasi? Organisasi ini sedang membusuk dari dalam!” serangnya tajam.
Terkait batalnya Porprov, Habib Syukri menilai kegagalan tersebut sebagai cermin lemahnya nilai tawar (bargaining power) kepengurusan KONI saat ini.
“Batalnya Porprov adalah tragedi. Kita sedang membunuh regenerasi atlet kita sendiri di daerah. Tanpa Porprov, kita ini buta arah menuju PON 2028. Cabor disuruh latihan keras, tapi panggungnya dirampas. Ini kezaliman terhadap keringat atlet dan pelatih. Jika nakhoda tidak mampu lagi membaca kompas dan malah membiarkan kapalnya bocor, lebih baik kibarkan bendera putih sebelum olahraga Jambi benar-benar tenggelam!” tutupnya.
Insan olahraga di Provinsi Jambi kini menuntut evaluasi terbuka, konkret, dan terukur. Jika konsolidasi gagal dan pembinaan terus dikorbankan, kepengurusan KONI Jambi hari ini berpotensi mencatatkan sejarah sebagai periode kelam bagi dunia olahraga daerah.
Penulis : Budi Harto – Iwan Minyak





