Oleh : M. Ali Siwoon, S.H., M.H.
(Penggiat Wisata, Mantan Ketua Asosiasi Travel Agensi (ASITA) Prov. Jambi 2 Periode)
Sejarah memang tidak boleh dilupakan, apalagi menghilangkannya. Tugas generasi peneruslah yang mengungkap sejarah di masa lalu, oleh karena itu Undang-Undang No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya telah mengaturnya dengan ketentuan pidananya, secara tegas akan memberikan sanksi pidana bagi siapa-siapa yang meng abaikan atau menghilangkan situs bersejarah.
Menara Gentala Arasy (dibaca aras) simbol peradaban Islam dalam sejarah Melayu Jambi, yang akan mengungkap peradaban di seberang kota Jambi di masa silam, yang menyimpan situs sejarah masuknya Islam pada waktu itu dan peran para tokoh di sana dan tempat yang identik dengan tempatnya santri mengaji, semua itu akan diungkap lewat museum yang berada di lantai bawah menara Gentala Arasy yang terletak di pemukiman seberang kota, tidak jauh dari tepian sungai Batanghari, dengan penghubung jembatan pejalan kaki bernama titian arasy yang melintas di atas sungai Batanghari.
Kehadiran menara Gentala Arasy ini akan mendorong majunya Wisata Religi, dan dapat pula menjadi pusat informasi pariwisata religi di provinsi Jambi. Wisata religi di Indonesia terus dikembangkan, sehingga warna pariwisata Indonesia akan menambah khazanah, tidak hanya menonjolkan keindahan, akan tetapi juga yang memiliki nilai sejarah yang sakral, yang juga memiliki segmen pasar.
Dalam Musrembang Pariwisata dan Kebudayaan provinsi Jambi baru-baru ini, ketika saya mewakili BPPD mendapat kesempatan membawakan pariwisata dari perspektif hukum memahami kembali Undang-Undang No.10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan RI dalam membangun pariwisata, panel bersama sejarawan Jambi bapak Drs H. Junaidi T Noor di hadapan peserta, kami sama-sama terlebih dahulu diberikan waktu menonton video singkat tentang menara Gentala Arasy tersebut dengan resume ceritanya, yang didasari data-data yang akurat dan pengambilan gambar dengan panorama yang cukup menarik.
Gagasan Mantan Gubernur Jambi bapak Hasan Basri Agus (HBA) membangun menara gentala Arasy, patut diapresiasi, terutama dari perspektif pariwisata, karena memang setiap ada peninggalan sejarah, selayaknyalah harus diungkap tidak sebatas cerita begitu saja atau sekilas cuma ada di museum negeri saja, akan tetapi perlu juga dibangun fasilitas atau monumen di mana sejarah itu dilakonkan, apalagi akan dapat menimbulkan dampak positif kepada ekonomi lokal.
Pada akhir acara panel, dengan senang hati saya mendapatkan buku tentang menara Gentala Arasy dengan sekilas cerita sejarah tentang peradaban islam dengan sejarah melayu Jambi, lengkap dengan foto-foto pendukungnya, yang diserahkan langsung oleh bapak Junaidi T Noor salah satu nara sumber buku tersebut, tentu saja saya ucapkan terimakasih, karena akan menambah pengetahuan kepada saya.
Apapun ceritanya, sejarah adalah sejarah, siapapun yang berjasa haruslah kita hormati dan hargai, karena tanpa sejarah kita tidak akan ada. Dan melihat situasi dan pengaruh dunia luar saat ini, apalagi adanya liberalisme, maka kita haruslah menanam dalam-dalam tanda sejarah itu, agar tidak hilang dan harus dijaga, supaya kita tidak lupa akan nikmat kemerdekan dari Allah tuhan yang maha kuasa, dan menghargai serta berterimakasih kepada para pahlawan yang telah berjuang dan membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dengan iman dan taqwa sampai saat ini.





