Rasulullah SAW bersabda, “Menguap datang dari setan. Oleh sebab itu, ketika salah satu dari kalian hendak menguap, ia harus berusaha menghindarinya semaksimal mungkin. Sebab, pada saat kalian menguap dan mengucapkan ‘Haa, haa’, setan akan menertawakannya.”

Dalam hadis ini menguap disandarkan pada setan karena dia selalu berusaha menggoda dan menggangu manusia agar mengikuti hawa nafsu dan keinginannya. Selain itu, manusia dituntut agar menghindari segala sesuatu yang menjadi penyebab menguap, seperti makan terlalu banyak dan kekenyangan. Ketika makan berlebihan dan terlalu kenyang, seseorang akan lalai beribadah dan malas melakukan hal-hal yang baik.

Tujuan setan membuat manusia menguap adalah ingin merusak raut wajah mereka lalu menertawakannya. Untuk menghindari hal ini, sebisa mungkin seseorang harus menghindari menguap. (Umdatul Qari)

Terdapat beberapa cara untuk menghindari menguap. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyarankan agar menutup mulut dengan tangannya seraya bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menutup mulutnya dengan tangannya karena ketika seseorang menguap, setan akan masuk melalui mulutnya. ”

Ketika merasa ingin menguap, seseorang dianjurkan agar berusaha untuk menutup mulutnya rapat-rapat, jika perlu, ia menggigit bibir bagian bawah.

Menurut kitab Tuhfatul Muluk, salah satu cara lain untuk menghindari menguap adalah ketika akan menguap, berpikir bahwa para nabi tidak pernah menguap. Imam Quduri RH berkomentar, “Kami sudah mencoba hal ini berkali-kali, dan itu  benar adanya.” (Raddul Mukhtar)

Menguap dalam shalat hukumnya makruh. Ketika akan menguap, orang yang shalat hendaklah menahan bibirnya dengan gigi. Apabila hal itu tidak memungkinkan, ia dapat meletakkan tangan kanan bagian luar pada mulut ketika berdiri, sedangkan di luar keadaan berdiri, ia meletakkan tangan kiri pada mulut untuk menutupinya. Ketika menguap, mulut ditutup dengan tangan kiri, tetapi ketika berdiri dalam shalat, menutup mulut dengan tangan kiri menyebabkan banyak gerakan dan akan memperlambat. Oleh karena itu, ketika berdiri, mulut ditutup dengan tangan kanan, sedangkan di luar keadaan berdiri, mulut ditutup dengan tangan kiri. (Ni’matul Islam)

BAGIKAN
Artikel Sebelumnyakeutamaan hari jum’at

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here